Di Balik Polemik Siswa SMKN 1 Wanggarasi, Sekolah Buka Fakta & Dasar Keputusan

(Foto - Ilustrasi AI/Totea.id).

TOTEA.ID – SMKN 1 Wanggarasi membuka fakta dan dasar keputusan terkait siswa yang tidak naik kelas dari kelas X pada Tahun Pelajaran 2025/2026. Dalam keterangan tertulisnya, pihak sekolah menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan kondisi akademik dan proses pembelajaran siswa.

Klarifikasi tersebut merespons pemberitaan salah satu media online yang berjudul “Miris! Dugaan “Pembunuhan Karakter” Siswa di SMK 1 Wanggarasi Kembali Mencuat, Guru Dipertanyakan”, pada Kamis (3/9/2026).

Pihak sekolah menegaskan keputusan tidak naik kelas tidak berasal dari tindakan atau tekanan seorang guru.

“Keputusan RT tidak naik kelas dari kelas X pada Tahun Pelajaran 2025/2026 bukan disebabkan oleh tindakan atau tekanan dari seorang guru. Keputusan tersebut berdasarkan kondisi akademik dan proses pembelajaran siswa,” kata Triono Djono Miarjo, Jumat (4/9/2026).

Baca juga:  Perkuat Sistem Pelayanan Pendidikan, Dinas Dikbud Provinsi Gorontalo Gelar Forum Konsultasi Publik

Sekolah menyebut terdapat sejumlah pertimbangan dalam proses evaluasi kenaikan kelas. Pertimbangan tersebut mencakup capaian akademik, kehadiran, dan penyelesaian tugas pembelajaran.

“RT memiliki sejumlah mata pelajaran yang belum mencapai ketuntasan, tingkat kehadiran yang kurang, serta terdapat tugas-tugas pembelajaran yang tidak diselesaikan,” ungkap Triono.

Menurut Triono, Sekolah menjalankan evaluasi berdasarkan mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

“Hal-hal tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam proses evaluasi kenaikan kelas sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku di sekolah,” lanjutnya.

Baca juga:  Evaluasi Menu MBG di Tapa, Wagub Idah Minta SPPG Lengkapi Asupan Gizi Siswa

Di sisi lain, Triono menjelaskan pembinaan yang dilakukan guru Djafar Hunowu merupakan bagian dari tanggung jawab guru dalam proses pendidikan.

“Pembinaan yang dilakukan oleh guru Djafar Hunowu merupakan bagian dari tanggung jawab guru dalam mendidik, membimbing, memotivasi, dan mengingatkan siswa agar lebih disiplin dalam mengikuti pembelajaran, hadir di sekolah, menyelesaikan tugas, serta meningkatkan hasil belajarnya,” jelas Triono.

Triono juga menyampaikan wali kelas telah melakukan dua kali home visit untuk membicarakan kondisi siswa. Selain itu, sekolah telah dua kali mengundang orang tua RT ke sekolah. Namun, pihak orang tua yang bersangkutan tidak datang.

Baca juga:  Gedung Baru MTSS Bahrul Ulum Diresmikan, Wagub Idah Tekankan Mutu Guru dan Karakter Siswa

Sekolah menegaskan setiap persoalan pendidikan perlu melihat data dan keterangan dari pihak terkait. Dengan demikian, penyelesaian persoalan tidak hanya bertumpu pada informasi dari satu sisi.

“Sekolah tentu terbuka terhadap kritik, masukan, maupun laporan dari siswa dan orang tua. Namun, setiap persoalan pendidikan hendaknya diselesaikan melalui klarifikasi, pemeriksaan data, dan komunikasi dengan semua pihak terkait, bukan berdasarkan informasi dari satu sisi saja,” tulis Triono mengakhiri klarifikasinya kepada media ini.

Redaksi Totea.id